“Dalam kondisi seperti ini, yang bisa saya lakukan hanyalah pasrah,” kata salah seorang teman pada sebuah obrolan senja tempo hari.

Sudah sebulan ini usahanya seret.  Pendapatannya  terus menurun. Sementara pengeluaran tetap ajek. Akhirnya diputuskan untuk berhenti dari usahanya. Maksud hati ia hendak banting setir, ia ingin membuka usaha lain. Namun, karena badai covid-19 masih membayang, niatan itu ditunda. Untuk sementara ia masih mematuhi anjuran pemerintah untuk social distancing di rumah.

“Saya tidak tahu kondisi ini sampai kapan, kondisi ekonomi goyah, sementara pengeluaran masih tetap, angsuran rumah masih harus lanjut, begitu juga dengan angsuran kendaraan bermotor, dan pengeluaran pokok lainnya,” imbuh lelaki paruh baya itu.

Ingin rasanya ia keluar dari lubang keterpurukan itu. Namun, apalah daya. Ia tak bisa bergerak leluasa di tengah pandemi covid-19 yang statistik penderitanya terus meningkat.

Lelaki itu hanyalah salah  satu yang mungkin dari ribuan orang bernasib sama di negeri ini. Hidupnya bercumbu dengan ketidapastian. Tidak tahu kapan pandemi akan berakhir. Sebab, saat mengikuti perkembangan informasi yang ada, yang di dapat hanyalah getir.

Menurut dia, banyak gagasan dari para elit yang berjarak dengan kenyataan.  Tiap pagi jalanan kota masih padat, laju kendaraan sekitar kawasan industry masih merayap, kontak sosial masih dimana-mana, jaminan sosial tak kunjung di dapat. “Sekali lagi, saya pasrah,” ucapnya lirih.

Pun demikian, di tengah kondisi yang tidak menentu itu. Harapan besaranya adalah badai pandemi ini segara berlalu. (AF)