Aku ingin menyusup ke dalam matamu, mencari dan ingin terus mencari, perlahan, pelan dan ingin terus masuk, aku menyingkap bulu-bulu penasaran, ku buka sedikit demi sedikit bulu-bulu itu, tak ku temukan apa-apa, tapi aku tak ingin putus arang, ku terobos kornea matamu dalam-dalam, di persemayaman itu, hanya nampak sekelebat bayang yang berlari, seakan menyuruhku untuk mengikutinya. Aku mengangguk saja, sontak ku ikuti saja bayang itu, hingga jauh ke dalam, tapi bayang itu hilang dibalik danau yang menyimpan telaga di matamu itu sayaang.

Oooh, aku baru tau sekarang, ternyata ada telaga yang tersimpan di matamu, yang membuat tatapanmu teduh. Hingga terus menarikku untuk terus menyelaminya sampai dalam-sedalamnya.

Ingin melihat isi apa yang ada dalam danau itu, mutiara, emas atau batu-batu kecil yang mempercantik kedelaman dan keteduhan telaga itu. Di matamu sayang sungguh ada telaga. Gemercik biru airnya, ketenangan dananuya sungguh sangat memikat. Ya. Engkau adalah karya surga dari mata seorang hawa. (AF)