“Kalau ngomong jangan ngegas dong, santuy kenapa!,” ujar seseorang menanggapi lawan bicaranya yang berintonasi tinggi. Tak berselang lama, sang lawan bicara kemudian merendahkan nada suaranya.

Masih jelas dalam ingatan sepotong adegan itu. Kebetulan saya tak jauh dari lokasi itu. Sehingga terdengar jelas dalam pendengaran saya.

Tanggapan yang dilontarkan oleh seseorang itu ternyata tak hanya memperingatkan lawan bicaranya saja, tapi juga turut menghentak kesadaran saya. Jangan-jangan, selama ini kesadaran kita adalah kesadaran ngegas. Bahkan kalau perlu gas pol. Ngegas bukan hanya konotasi berbicara dengan nada keras, tapi juga kebanyakan omong, mengkonsumsi sebanyak-banyaknya, melampiaskan, menumpahkan, bahkan menindas. Kesadarannya adalah makan mumpung masih bisa dimakan, ambil sepanjang bisa diambil, beli sepanjang bisa dibeli, eksploitasi sepanjang bisa diekspolitasi, vakansi sepuasnya sepanjang masih bisa.

Modusnya bermacam-macam, meliputi; mumpung masih muda, mumpung masih ada uang, bahkan mumpung masih berkuasa.

Saya tidak tahu apa yang terjadi kalau orang terus-terusan ngegas. Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya naik kendaraan di rimba jalan raya tanpa menginjak rem, padahal di depan ada kendaraan yang berhenti mendadak, ada tikungan, ada traffic light, dan segala macam.

Pun dalam menjalani roda kehidupan. Kesadaran untuk ngerem juga sangat penting. Sebab, tak selamanya jalan kehidupan ini dalam kondisi mulus, bisa jadi berliku, naik turun, bahkan penuh onak dan duri.  Maka,  kesadaran ngerem menjadi sebuah keniscayaan.

Semoga fenomena pandemi covid-19 yang beririsan dengan bulan suci Ramadhan ini menjadikan kita untuk selalu merefleksi diri, sehingga melecut kesadaran kita untuk ngerem, mengendalikan, dan menahan. (AF)