ilustrasi diambil dari JawaPos.com/Cara Mudah Wujudkan Resolusi Hidup Sehat pada 2020

Dalam dua purnama ini, rubrikrasi kesehatan di berbagai platform media tak pernah sepi. Tak lain karena pandemi covid-19 yang mewabah di berbagai belahan bumi.

Penyakit ini tak mengenal kelas. Apalagi segmentasi. Baik kaya maupun miskin bisa terkena dampak pandemi ini. Pun politisi-politisi elit atau konglomerat juga ada yang terjangkit virus ini.

Dalam situasi seperti ini, mata kita dibuka selebar-lebarnya, bahwa sebegitu berharganya sehat. Sekaya apapun orangnya , setinggi apapun jabatannya, tidak bisa berbuat apa-apa ketika sudah terjangkit penyakit ini.

Saya teringat pada sebuah kisah. Ada seorang raja yang super kaya. Istananya dimana-mana. Kekurangannya hanya satu; pelit harta. Sang raja ini punya hobi berburu binatang.

Pada sebuah purnama, sang raja keluar dari singgasana istananya untuk berburu. Dengan tombaknya dia membidik seekor kijang. Namun, dalam membidik binatang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Begitu tombak hendak ditusukkan, si kijang cepat kilat lari dari perburuan. Sang raja merasa andrenalinnya naik saat kijang lari. Sang raja terus mengejar dengan kuda kesayangannya.

Begitu antusiasnya mengejar binatang buruannya, ia tidak menyadari bahwa pengejarannya sampai jauh di  luar istana. Bahkan sampai siang hari. Sang raja sampai di hamparan padang pasir yang sepi oleh orang-orang. Yang ada hanya terik dan desir pasir yang terhembus oleh desau angin.

Sang raja tak tahu arah jalan pulang. Sementara perbekalannya juga habis. Kudanya juga hilang saat ia tidur kelelahan. Singkat cerita, ada seorang musafir yang melewati peristirahatan sang raja. Dalam keadaan tidak berdaya, sang raja meminta bantuan kepada musafir tersebut.

Niatan awal Musafir hendak membagi perbekalannya. Namun, karena Musafir tahu bahwa yang meminta pertongan adalah raja. Maka ia bernegosiasi dengan raja. ”Saya  akan memberi sebagian perbekalan saya, tapi  syaratnya ditukar dengan uang. Uangmu pasti banyak, karena kamu adalah raja,” kata Musaffir.

Mendengar tawaran itu. Sang raja tak lantas mengiyakan. “Kamu itu tak tahu diri, saya ini raja. Saya butuh bantuan anda. Mengapa anda malah meminta uang,” sanggah Raja.

Mendengar Raja bilang begitu, Sang Musaffir.  justru tersinggung. ”Ya sudah kalau tidak mau, saya mau melanjutkan perjalanan, perjalananku masih jauh, semoga ada musafir lain yang lewat, asal tahu aja belum tentu sebulan sekali ada orang lewat daerah terpencil ini,” selorohnya.

Mendengar perkataan itu, Sang Raja tambah lemas. Ia membayangkan akan semakin kehausan dan kelaparan kalau tidak ada yang membagi bekal. Badannya juga akan semakin lemas. Maka terjadi dialog antar keduanya.

“Begini saja, akan aku berikan separo perbekalanku, syaratnya tukar dengan salah satu istanamu. Karena kamu raja pasti istanamu banyak,” kata Musaffir.

Sang raja tidak bisa menolak, mengingat kondisi badannya yang kian tak berdaya. Setelah menyetujui permintaan Musaffir. Ia minum dan makan bekal yang diberikan. Merasa badannya segar kembali, kemudian ia kembali pulang dengan berjalan kaki.

Sesampai di istana, sembari rebahan, dia merenung, bahwa mahalnya sebuah kesehatan; satu istana hanya ditukar dengan sebotol minum dan sekotak makanan, hanya gara-gara ia haus dan lapar.

Tidak lama dari kejadian itu. Sang Raja kembali ditempa sakit. Kali ini tidak bisa buang air kecil. Ia membuat sayembara, siapa yang bisa mengobati sakitnya akan diberikan uang banyak. Para tabib silih berganti datang. Namun tak ada satupun yang bisa menyembuhkannya.

Pada sepotong siang ada seorang yang diragukan penampilannya untuk mengobati sebuah penyakit. Orang itu bilang bahwa ia mampu mengobati penyakit sang raja. Syaratnya satu istana yang dimiliki harus diberikan kepadanya kalau sang raja sembuh.

Singkat cerita, sang raja sembuh dari sakitnya. Satu istananya diberikan kepada orang yang bisa menyembuhkan penyakitnya itu. Lagi-lagi Sang Raja merenung, betapa mahalnya sebuah kesehatan, ia harus merelakan satu istananya hanya karena ia ingin lancar buang air kecil. Atas kejadian itu, Ia menyadari bahwa ia harus selalu bersyukur atas nikmat sehat yang selama ini diberikan Tuhan.

Seberapapun banyak hartanya, tidak ada artinya kalau dalam keadaan sakit.

Di tengah pandemi covid-19 ini, tidak ada salahnya kita harus selalu menjaga diri, seruan social distancang dan physical distancing perlu dipatuhi. Sebab, lebih baik mencegah daripada mengobati. (AF)

 

— Griya Kedungpane di sepotong sore —-