Seruan untuk menjaga diri melalui social distancing awalnya saya anggap imbauan belaka. Namun, melihat kabar dan statistik yang ada, imbauan itu lama-lama menjadi sebuah kesadaran.  Bukan semeta untuk kepentingan pribadi, tapi untuk soliditas dan solidaritas. Kesadaran ini juga sebagai ikhtiyar agar pandemi covid-19  ini cepat berlalu.

Sudah hampir satu purnama laku sunyi itu terjalani. Karena harus di rumah, salah satu hikmah yang bisa dipetik adalah bisa memesrahi buku-buku yang belum sempat terbaca. Sebab, selama ini hanya menjadi pajangan di rak yang ada.

Kegiatan ini menjadi alternatif kami untuk membunuh sepi. Bersama buku, kami menjelajah pemikiran, mengolah rasa, dan mengasah peka.  Bahkan, pada suatu momentum harus meneteskan air mata.

Sudah mafhum bahwa banyak nilai yang bisa didapatkan dari membaca buku. Bahkan, Bung Hatta juga tak lupa membawa buku-bukunya selama diasingkan. “Aku rela di penjara, asal bersama buku-buku,” begitu kata Bung Hatta.

Banyak tokoh-tokoh legendaris membunuh sepi dengan mambaca dan menulis. Bung Karno ketika di penjara juga tak lepas dari buku-buku,.  Untuk memperbanyak kosa kata, seorang Malcolm X sebagaimana otobiografinya, yang ditulis bersama Alex Haley, membaca dan menyalin kamus dari lema A-Z sampai tiga kali ketika dipenjara delapan tahun. Ketika keluar dari penjara, dia menjadi penjuang hak asasi manusia.

Masih banyak contoh sebenarnya para tokoh mengasah daya intelektualnya ketika di penjara; Antonio Gramsci menuliskan buku catatan, berjudul Notebooks from Prison, dari dalam penjara, juga Hitler menuliskan Meijn Kampf juga selama di penjara.

Oleh karena itu, walaupun pandemi covid-19 ini kita harus mengurung diri di rumah, namun pikiran dan rasa juga tak boleh terkurung. Sebab,  mengutip filsuf kenamaan Perancis Rene Descartes,  “Aku berpikir maka aku ada”. (AF)