Seperti malam-malam biasanya, Salijah selalu tidur di waktu terakhir diantara para anggota keluarganya. Ia belum beranjak tidur sebelum memastikan anak-anaknya terlelap, tentu setelah membacakan dongeng bagi tiga buah hatinya. Meskipun ia mengistirahatkan diri di waktu paling akhir, ia selalu bangun lebih awal, biasanya sebelum subuh.

Salijah termasuk orang yang mudah tidur, karena seharian disibukkan dengan kerja-kerja rumah tangga. Namun, malam itu ia tidak kunjung terlelap meskipun sudah mencoba memejamkan mata berulangkali. Bantalnya sudah dicoba dibolak-balik juga tak bisa membantunya. Pikirannya masih kalut. Tubuhnya terlentang di atas ranjang, tapi pikirannya entah kemana.

Ia ingat, dua hari lagi merupakan hari ulang tahun pernikahannya yang ke- 25. Pada suatu kesempatan, ia sempat punya angan-angan dengan suaminya, kalau pada ultah pernikahannya yang ke seperempat abad itu, ia akan merayakannya dengan mengundang tetangga sekitar rumah. Sekedar berbagai makan kecil-kecilan. Ia merasa bersyukur, selama membagun mahligai rumah tangga, dianugarehi keluarga yang bahagia, tentu menurut ukurannya. Bukankah kebahagiaan tergantung penyikapan seseorang.

Persoalannya, kocek Salijah sudah kempes sejak lama. Sudah berbulan-bulan suaminya tidak bekerja. Selama suaminya tidak bekerja, juga sering terjadi cekcok rumah tangga. Sudah berbulan-bulan pula Salijah menjadi ibu rumah tangga sekaligus tulang punggung keluarga, hasil berjualan kerupuk di pasar hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Salijah sudah memohon kepada suaminya agar mau bekerja lagi, namun tidak kunjung disanggupi. Dulu, saat suaminya bekerja sebagai buruh nelayan, paling tidak cukup membayarkan biaya sekolah anak-anaknya.

Kalaupun gagal merayakan ulang tahun pernikahan seperempat abad, itu tidak menjadi soal bagi Salijah dan keluarga kecilnya. Hal yang membuat pikirannya kalut adalah permintaan anak perempuannya yang kini masih duduk di bangku SMP. Dua hari lalu, Naning, anak keduanya itu minta iuran sekolah yang sudah menunggak delapan bulan agar segera dilunasi.

“Bu, sebentar lagi ada ujian kenaikkan kelas. Sebelum pelaksanaan ujian, semua tunggakan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) diminta di lunasi oleh sekolah,”

“Iya, nanti Ibu carikan uang ya, Naning belajar yang rajin agar hasil ujiannya mendapatkan yang terbaik”

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Salijah kebingungan bagaimana mencarikan uang SPP anaknya itu. Sebab, hutangnya sudah kemena-kemana. Tetangga-tetangga maupun saudara dekat sudah dihutangi semua. Sementara, hasil dagangan kerupuknya juga tidak mungkin bisa menghasilkan uang sebagaimana jumlah kekurangan SPP sekolah Naning. Ia sudah kembali berusaha mencari hutangan ke tetangga-tetangganya terdekat, namun hasilnya nihil.

Sore itu, matahari mulai condong ke barat. Senja juga sudah memancarkan jingganya. Salijah menghampiri suaminya yang sedang duduk-duduk di teras rumah sambil menikmati senja. Salijah mengutarakan persoalan menganai SPP anaknya itu. Berharap, suaminya ikut membantu mencarikan.

Sebenarnya, ia tidak ingin lagi meminta bantuan kepada suaminya untuk mencarikan uang, karena sudah berulangkali ia meminta tapi tidak ada tindak lanjut. Sebab, setiap menyinggung hak suami yang harus menafkahi istri dan anak-anaknya, yang terjadi justru perdebatan yang menyulut emosi suamunya, dampaknya Salijah justu dimarahi.

Namun, hari sore itu Salijah sudah tidak kaut mananggung beban sendirian. Ia memohon kepada suaminya agar ikut mencarikan solusi atas persoalan yang menimpanya itu.

“Pak, Naning minta SPP sekolahnya di lunasi. Mbok ya Bapak ikut membantu mencarikan. Setiap hari jangan hanya duduk-duduk saja, sebagai kepala rumah tangga khan harus bertanggung jawab,”

Mendengar omongan istrinya itu, yang terjadi bukanlah melecut motivasi untuk membantu, yang ada justru emosinya naik. Ucapan istrinya laksana petir yang menyambar-nyambar hatinya, ia tersinggung, hatinya seperti disayat sembilu, karena merasa direndahkan.

“Kamu sudah tahu, saya sudah lama tidak bekerja, dari mana saya mendapatkan uang,”

“Iya, tapi khan Bapak bisa usaha mencarikan,”

“Usaha bagaimana?, tidak ada lagi orang yang mau menggunakan tenagaku”

Seperti biasanya, Salijah memilih menyerah, diam seribu bahasa. Daripada kalut dalam perdebatan emosi yang tak berujung, dia memilih menyingkir dari perbincangan suaminya. Lebih baik mempersiapkan dagangan kerupuk untuk esok hari, siapa tahu dagangannya laris esok hari, dengan begitu bisa digunakan untuk tambah-tambah iuran SPP anaknya.

….

Pagi itu Salijah pergi pasar lebih awal dari sebelumnya, stok dagangan yang dibawa juga lebih banyak. Namun, sebagaimana hukum dagang, tidak ada yang bisa memastikan pada hari itu akan sepi atau ramai pembeli. Manusia hanya bisa usaha, Tuhan yang menentukan.

Hati Salijah berdegub, karena sampai siang dagangannya belum laku. Perasaannya goyah, satu sisi menjelang dzuhur dagangannya masih belum banyak yang terbeli. Sebagai ibu rumah tangga, pikirannya juga melayang ke rumah, ia belum mempersiapkan makan siang untuk keluarganya. Padahal, sebelum dzuhur biasanya ia sudah pulang menyiapkan makan siang untuk anak-anak dan suaminya.

Diantara kegoyahan itu, ia memilih melanjutkan dagangannya. Alhamdulillah, menjelang ashar dagangannya banyak terbeli. Keuntungannya bisa digunakan untuk mengangsur SPP anaknya. Besok ia akan datang ke sekolah anaknya meminta keringanan kepada pengelola agar diberikan keringanan membayar SPP. SPP itu akan tetap dibayarkan, namun dengan cara mengangsur sedikit demi sedikit.

Hasil usaha dan niat itu akan dikabarkan pada anaknya saat sampai di rumah nanti. Berharap, hati anaknya bisa sedikit lega, paling tidak semburat kebahagiaan bisa sedikit ditumbuhkan. Namun, setiba di rumah ia justru merasa ada yang aneh.

“Hari sudah menjelang sore, kenapa baru pulang? Ngapain saja di pasar? tidak seperti biasanya berdagang sampai sore. ” tanya suaminya dengan sorotan mata tajam.

“Di pasar ya jualan, lakunya sore ya pulang sore,”

“Tidak biasanya, jangan-jangan kamu main serong dengan laki-laki di pasar, hingga kamu tidak pulang memasakkan keluargamu yang ada di rumah,”

Mendengar tuduhan suaminya yang tidak karuan itu, Salijah naik pitam. Kepalanya seperti di sambar petir, emosinya memuncak. Sisa dagangan yang masih digendong dipungungnya langsung ditaruh begitu saja.

“Saya sudah seharian pontang-panting mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari, tanggung jawabmu sudah saya ambil alih, kerjamu hanya duduk-duduk saja di rumah, anak-anak minta iuran sekolah hanya kau hiraukan, tega-teganya kamu menuduh seperti itu, sekarang maumu apa?”

“Tidak lazimnya perempuan di fajar dari pagi sampai sore, saya dengar kamu sering ngobrol sama laki-laki di pasar”

“Sungguh lantang bilang begitu, kalau begitu kamu yang jualan di pasar, saya yang di rumah saja, biaya sekolah anak-anak juga dicarikan, kalau tidak bisa jangan omong sembarangan”

Mendengar istrinya bilang begitu, naluri lelakinya merasa direndahkan. Ia langsung mengemasi pakaian-pakaian miliknya ke dalam tas. “Mulai sekarang saya enggan hidup di sini lagi,” katanya sambil berjalan membanting pintu.

Salijah hanya diam saja sembari menundukkan kepala, perlahan bulir-bulir air matanya jatuh. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana, ia merasa apa yang sudah dilakukan untuk mempertahankan rumah tangga sudah benar, apakah hanya karena kesalahpahaman, perahu rumah tangga yang sudah dibangun seperempat abad retak dan kandas. Ibu tiga anak ini hanya bisa memohon kepada tuhan agar mahligai rumah tangganya bisa utuh kembali.

Di sela tangisnya itu, Nining masuk rumah sepulang dari mengaji dari mushola. Saat Salijah cekcok dengan suaminya, anak-anaknya tidak ada yang tahu, karena sedang tidak di rumah.

“Ibu seharian jualan, pasti letih, sini Nining pijit biar lelahnya hilang” sambil duduk di belakang ibunya.

“Oh ya Bu, aku punya kabar baik, kata Pak Kepala sekolah aku tidak perlu melunasi SPP, karena nilai-nilai raportku selama ini bagus, pengelola sekolah katanya akan meringankan biaya sekolahku. Jadi ibu tidak perlu khawatir dengan biaya sekolahku lagi”

“Alhamdulillah,” ucap Salijah dalam hati gamang, satu sisi tidak perlu repot-repot mencarikan uang SPP, tapi di kedalaman hati lain merasa bersalah karena suaminya entah pergi kemana.

Semarang, 1 Juli 2017

Amin Fauzi