ilustrasi diambil dari pinterest.com/about islam

Penularan virus corona masih belum berhenti. Kabar duka masih terdengar dan terbaca tiap hari. Nyawa demi nyawa melayang dampak dari pandemi ini. Entah sampai kapan situasi ini terhenti, tidak ada yang tahu. Pun begitu, lebih baik kita diam-diam merawat harapan,  walau dalam bimbang oleh angka-angka dan kalkulasi.

Kita juga tidak tahu sampai kapan di rumah untuk mengurung diri.  Yang jelas sampai situasi ini benar-benar terkendali.  Sembari kita bercumbu dengan ketidakpastian.

Dalam situasi seperti ini, barangkali kita diberikan kesempatan untuk jeda, barangkali diberikan kesempatan merebahkan lelah, atau meredakan resah. Kalau pada situasi normal, kita gedabukan mengejar sesuatu yang nisbi, mengais-ngais kemewahan duniawi, sibuk bervakansi, dan menyibukkan diri untuk perjalanan keluar (outward journey).

Pada saat ini mungkin kita diberikan kesempatan untuk melakukan perjalanan ke dalam (inward journey), yakni  sebuah perjalananan sunyi untuk kembali menemukan kedalaman hati, kembali mengenali diri, untuk selalu instropeksi dan instropeksi,  sehingga memperoleh kedamaian hakiki. Perjalanan ke dalam juga merupakan perjalanan yang panjang. Bahkan dalam literatur Islam, ruang hati terbagi menjadi empat lapis, yakni; shadr, qalb, fuad, dan lubb.  Kita bisa mengukur diri, pada fase manakah  kita bisa menjajaki ruang-ruang itu?.

Saya kira sungguh tidak mudah menjangkau ruang hati yang terdalam.  Seseorang musti merasakan kesunyian di tengah keramaian dunia.

Pada situasi seperti ini, mungkin kita diberikan kesempatan untuk menyadari kesunyian, bahkan menerima keheningan. Sehingga kita bisa mengenal dan mendengarkan isi hati kita.

Sebab, sebagaimana kata Paulo Coelho dalam novelnya The Alchemist. “Dimana hatimu berada, di situlah hartamu berada,”. (AF)

—- Griya Kedungpane di sepotong pagi, bersama aroma melati. —-