Corona adalah fenomena. Hadir dan mengadanya banyak merubah diri dan massa. Bahkan merenggut nyawa. Seruan untuk menjaga jarak baik physical distancing maupun social distancing terus menggema dari berbagai media massa.

Seruan untuk menjaga jarak kami patuhi sedemikian rupa, sebagai wujud soliditas dan solidaritas agar virus itu tak merajalela.  Tentu awalnya tidak mudah bagi orang yang terbiasa kesana kamari, tidak mudah bagi orang yang terbisa “ngopi”, tidak mudah bagi orang yang terbiasa dengan mobitas tinggi. Namun, pada situasi seperti ini, musti bisa berdamai dengan keadaan.

Dengan berdamai dengan keadaan, toh banyak hikmah yang bisa dipetik. Mulai ada banyak waktu  di rumah, mendampingi anak belajar,  memesrahi buku yang belum sempat terbaca, merutinkan berolahraga, mengurangi intensitas pegang gadget, dan sebagainya.

Sudah lebih dari setengah purnama laku itu terjalani.  Mengurung diri di rumah mulanya butuh pemaksaan, begitu mendapatkan ritmenya, menjadi sudah pembiasaan. Berhari-hari menarik diri dari hiruk pikuk “dunia”, lama-lama terbiasa menyadari keheningan, terbiasa menerima sunyi, bahkan terbiasa menerima senyap dan kedap.

Dengan menyedari keheningan, mulai membuahkan permenungan-permenungan atas hidup dan kehidupan, mulai belajar pemaknaan hidup yang lebih kontemplatif.

Sebab, diakui atau tidak, realitas pergolakan hidup di abad ini semakin paradoksial. Sebagaimana buku yang ditulis oleh John Naisbitt berjudul “Hi-Tech, Low Touch”, pada satu sisi manusia menggantungkan hidupnya pada teknologi tinggi (hi-tech), namun pada sisi lain berada pada kualitas sentuhan dan sikap yang low touch. 

Pun demikian, saya berharap pandemi ini  segera berlalu. Sebab, sudah banyak hutang rindu yang harus terbayarkan.  (AF)

 

Griya Kedungpane di sepotong sore.